Rabu, 07 November 2012
SENI MUSIK MALUKU
A.
Lagu Daerah Maluku
Masyarakat
Maluku mempunyai oleh suara yang cukup menonjol. Hal tersebut dikarenakan
wilayahnya yang mempunyai pantai dimana dengan sendirinya mempunyai gelombang
sehingga mempengaruhinya untuk memberikan suasana selalu riang.
Hal ini membangkitkan para seniman
Maluku untuk menciptakan karya seni yang tinggi mutunya yang berhubungan dengan
lautan. Beberapa lagu Maluku yang terkenal dan sudah menjadi milik nasional
antara lain, Kota Ambonj, Mama Bakar Sagu, Ouw Ulate, Lembe-Lembe, Ole Sioh,
Saureka-saureka, Amarlolin, Borero, Banda Neira, Sayang Kane dan sebagainya.
‘Dengan lagu kami menghibur, dengan lagu kami berdendang,’ menjadi motto Jujaro
Mungare Ambon, sehingga menjadi potensi pariwisata yang cukup diandalkan.
Selain kaya akan seni suara,
Maluku juga tidak ketinggalan dengan seni tarinya. Kalau seni suara banyak
menceritakan keindahan laut dengan gelombangnya, maka seni tari banyak
memfokuskan diri pada kekayaan hutan, kelincahan masyarakat dalam mencari kehidupan.
Untuk itulah seni tari hidup dan berkembang sesuai dengan kodrat yang ada di
Maluku.
B.
Alat Musik
Maluku
Alat
musik yang terkenal adalah Tifa (sejenis gendang) dan Totobuang. Masing-masing
alat musik dari Tifa Totobuang memiliki fungsi yang bereda-beda dan saling
mendukung satu sama lain hingga melahirkan warna musik yang sangat khas. Namun
musik ini didominasi oleh alat musik Tifa. Terdiri dari Tifa yaitu, Tifa Jekir,
Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas, ditambah sebuah Gong
berukuran besar dan Toto Buang, yang merupakan serangkaian gong-gong kecil yang
di taruh pada sebuah meja, dengan beberapa lubang sebagai penyanggah. Adapula
alat musik tiup yaitu Kulit Bia (Kulit Kerang).
Tifa
dan totobuang adalah musik asli yang sama sekali tidak dipengaruhi budaya luar.
Musik ini merupakan musik khas warga yang tinggal di wilayah mayoritas Kristen.
Dalam beberapa pertunjukan, musik ini biasanya disandingkan dengan musik sawat,
yang sebaliknya hanya dapat dimainkan oleh orang-orang yang tinggal di wilayah
mayoritas Muslim.
Masing-masing
alat musik dari tifa dan totobuang memiliki fungsi yang berbeda-beda dan saling
mendukung satu sama lain hingga melahirkan warna musik yang khas. Namun musik
ini didominasi oleh musik tifa. Terdiri dari tifa jekir, tifa dasar, tifa
potong, tifa jekir potong, dan tifa bas ditambah dengan gongberukuran besar dan
totobuang, yang merupakan serangkaian gong-gong kecil yang ditaruh pada sebuah
meja, dengan beberapa lubang sebagai penyanggahnya.
Sayangnya
musik nan indah ini, sekarang sangat jarang kita nikmati. Bahkan dapat
dikatakan langka. Musik ini hanya dapat dipertunjukkan pada event-event
tertentu. Misalnya acara penyambutan tamu khusus, pertunjukan kesenian daerah
Maluku di luar daerah atau di luar negeri serta pada acara-acara adat.
Pemainnya pun umumnya merupakan pemain yang diajarkan secara turun-temurun oleh
orang tua mereka.
Dalam
kebudayaan Maluku, terdapat pula alat musik petik yaitu Ukulele dan Hawaiian
seperti halnya terdapat dalam kebudayaan Hawaii di Amerika Serikat. Hal ini
dapat dilihat ketika musik-musik Maluku dari dulu hingga sekarang masih
memiliki ciri khas dimana terdapat penggunaan alat musik Hawaiian baik pada
lagu-lagu pop maupun dalam mengiringi tarian tradisional seperti Katreji.
Musik
lainnya ialah Sawat. Sawat adalah perpaduan dari budaya Maluku dan budaya Timur
Tengah. Pada beberapa abad silam, bangsa Arab datang untuk menyebarkan agama
Islam di Maluku, kemudian terjadilah campuran budaya termasuk dalam hal musik.
Terbukti pada beberapa alat musik Sawat, seperti rebana dan seruling, yang
mencirikan alat musik gurun pasir.
Diluar
daripada beragamnya alat musik, orang Maluku terkenal handal dalam bernyanyi.
Sejak dahulupun, mereka sudah sering bernyanyi dalam mengiringi tari-tarian
tradisional. Tak ayal bila sekarang, terdapat banyak penyanyi terkenal yang
lahir dari kepulauan ini. Sebut saja para legenda seperti Broery Pesoelima dan
Harvey Malaihollo. Belum lagi para penyanyi kaliber dunia lainnya seperti
Daniel Sahuleka, Ruth Sahanaya, Monica Akihary, Eric Papilaya, Danjil Tuhumena,
Romagna Sasabone, Harvey Malaihollo serta penyanyi-penyanyi muda berbakat
seperti Glen Fredly, Ello Tahitu dan Moluccas.
a) Tifa
Tifa merupakan alat musik khas dari
Maluku dan Papua. Tifa mirip dengan alat musik gendang yang dimainkan juga
dengan cara dipukul. Alat musik ini terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi
atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan biasanya
penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara
yang bagus dan indah. Bentuknyapun biasanya dibuat dengan ukiran. Setiap suku
di Maluku dan Papua memiliki tifa dengan ciri khas nya masing-masing.
TIFA
biasanya digunakan untuk mengiringi tarian perang dan beberapa tarian daerah lainnya
seperti tari Lenso dari Maluku yang diiringi juga dengan alat musik totobuang,
tarian tradisional suku Asmat dan tari Gatsi.
Alat
musik tifa dari Maluku memiliki nama lain, seperti tahito atau tihal yang
digunakan di wilayah-wilayah Maluku Tengah. Sedangkan, di pulau Aru, tifa
memiliki nama lain yaitu titir. Jenisnya ada yang berbentuk seperti drum dengan
tongkat yang seperti yang digunakan di Masjid . Badan kerangkanya terbuat dari
kayu yang dilapisi rotan sebagai pengikatnya dan bentuknya berbeda-beda
berdasarkan daerah asalnya.
b) Totobuang
Gieben. at. al, mengemukakan bahwa,
kata totobuang berasal dari kata tabuh yang dalam tradisi gamelan jawa berarti
menabuh/bermain gamelan. Ia juga mengutip pendapat van Hovel yang mengatakan,
gong/boning mula-mula merupakan alat penukar cindera mata dalam acara angkat
pela. Gong disebut sebagai mata pela. Pendapat lainnya yakni, Tamaela berpendapat,
alat musik totobuang yang adalah alat musik gong dalam tradisi gamelan jawa,
datangnnya dari pulau jawa sejalan dengan masuknya agama islam di Maluku pada
abad ke-15. Dari kedua pendapat tadi, Alfons mengutip pernyataan Suhardjo
Parto, yakni 1). Sebagai alat cindera mata. Dianggap berharga sebab masyarakat
Maluku tidak mempunyai tradisi melebur logam. 2) para mubalik yang datang dari
pulau Jawa (Giri) menggunakan totobuang pada saat itu sebagai sarana kontak
dalam penyiaran agama Islam.
Totobuang dalam perkembangan organologinya
telah mengalami perkembangan dimana tidak saja dibuat dari tembaga (bonang)
tapi, oleh masyarakat di Maluku telah mengembangkan totobuang dari kayu, maupun
logam lain seperti; totobuang kaleng (terbuat dari kaleng ikan sardencis),
totobuang lampu (terbuat dari tabung lampu gas). Totobuang ini dikembangkan
oleh group totobuang Haunesa dari desa Tuni.
Adanya pengembangan bentuk dan bahan pembuatan
totobuang disebabkan karena untuk mendapatkan totobuang bonang, harus didatangkan
dari daerah Jawa (Klaten, Solo, Semarang atau Yogyakarta).
C. Jenis Musik Maluku
1) Musik Bambu Tiup
Pertunjukan musik bambu tiup merupakan hiburan umum bagi masyarakat
Halmahera Utara yang dimainkan dengan cara ditiup. Alat musik bambu tiup
terbuat dari bambu dan dibawakan oleh sekelompok pemain musik yang terdiri dari
20-30 orang. Berbeda dengan musik bambu hitadi, musik bambu tiup tidak
membutuhkan penyanyi dan dapat dikolaborasikan dengan alat musik lain seperti
seruling.
2)
Musik Yangere
Merupakan musik tradisional masyarakat Halmahera Utara. Musik ini dimainkan
secara kelompok dengan menggunakan alat musik tradisional kaste (bass
tradisional) dan jup (gitar berukuran kecil). Oleh masyarakat setempat musik
Yangere biasanya dimainkan dalam rangka menyambut event tertentu dengan cara
membawanya berkeliling dari rumah ke rumah.
3)
Musik Bambu Hitadi
Sesuai namanya, alat Musik Bambu Hitadi dibuat dari bambu dengan
menggunakan pengaturan nada musik berdasarkan nada-nada yang dibutuhkan pada
lagu yang diiringi. Musik Bambu Hitadi merupakan musik tradisional yang hanya
terdapat di Halmahera Utara dengan pemain dan penyanyi berjumlah 15 orang.
D. Musik Bambu Hitada
1)

Asal-usul

Asal-usul
Kebudayaan
merupakan hasil dari interaksi antara manusia dengan Tuhannya, antara manusia
dengan sesamanya, dan antara manusia dengan alam dimana mereka hidup. Oleh
karena pola-pola interaksi yang terjadi berbeda-beda, maka kebudayaan yang
dihasilkan berbeda-beda dan mempunyai keunikan masing-masing. Salah satu
kebudayaan yang cukup unik tersebut adalah Musik Bambu Hitada. Musik
tradisional ini merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Halmahera,
Maluku Utara.
Menurut
Tengku Ryo, musik tradisional lahir dari proses panjang interaksi manusia
dengan alam. Oleh karena alam yang menjadi sumber inspirasi berbeda-beda, maka
musik yang dihasilkannyapun juga berbeda-beda, tidak hanya pada
bunyi-bunyiannya, tetapi juga pada alat-alat yang digunakan untuk menghasilkan
bunyi-bunyian tesebut. Lebih lanjut,
Tengku Ryo mengatakan bahwa musik tradisional tidak saja digunakan untuk
hiburan, tetapi juga digunakan oleh masyarakat yang memegang teguh tradisi
untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Mereka berkomunikasi dengan Tuhan menggunakan
irama musik dan nyanyian (Wawancara dengan Tengku Ryo, 15 Mei 2009).
Pendapat
Tengku Ryo di atas dapat kita gunakan untuk membaca sejarah munculnya kesenian
tradisional, seperti halnya Musik Bambu Hitada yang pada kesempatan kali ini menjadi
fokus pembahasan. Bambu bagi masyarakat Halmahera, tidak saja dapat digunakan
sebagai bahan baku untuk membuat rumah, pagar, tiang, dipan, rakit sungai, dan
permainan bambu gila, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai alat musik.
Kesenian dengan bambu sebagai peralatan utamanya oleh masyarakat Halmahera
disebut Musik Bambu Hitada atau Hitadi
(http://busranto.blogspot.com, http://ternate.wordpress.com).
Bagi
masyarakat Halmahera, Musik Bambu Hitada merupakan hasil kreativitas yang tidak
saja berfungsi untuk menghibur masyarakat, tetapi juga untuk kelengkapan
upacara, seperti upacara perkawinan dan upacara syukuran hasil pertanian.
Seiring perkembangan zaman, dan semakin gencarnya musik-musik modern memasuki
relung-relung kehidupan masyarakat desa, musik tradisional, seperti halnya
Musik Bambu Hitada, semakin tersisihkan. Selain tersisihkan, fungsi musik
tradisional ini juga mengalami reduksi, dari musik sakral-profan menjadi
sekedar musik profan yang sengaja diproduksi untuk kepentingan pasar. Jika pada
awalnya Musik Bambu Hitada berada pada ranah sakral-profan, maka saat ini telah
mengalami reduksi fungsi sehingga hanya berada di ranah profan.
Kondisi
ini harus disikapi secara arif dan bijaksana oleh segenap stake holder agar
musik tradisional, seperti Musik Bambu Hitada, tidak musnah tergilas musik
modern yang lebih canggih dan tidak kehilangan fungsi-fungsi tradisionalnya.
Menurut penulis, ada tiga hal yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Musik
Bambu Hitada. Pertama, perlu ditumbuhkan rasa memiliki masyarakat, khususnya
anak-anak, terhadap Musik Bambu Hitada. Sejak dini anak-anak harus dikenalkan
tidak saja kepada bagaimana membuat dan memainkan Musik Bambu Hitada, tetapi
juga nilai-nilai apa saja yang dikandungnya.
Kedua,
melakukan pengembangan Musik Bambu Hitada sehingga dapat diterima oleh
masyarakat, namun harus tetap berlandaskan nilai-nilai lokal. Munculnya
kelompok-kelompok Musik Bambu Hitada merupakan fenomena positif terhadap
keberlangsungan musik ini. Namun pengembangan harus dilakukan secara hati-hati
agar Musik Bambu Hitada tidak kehilangan ruhnya.
Ketiga,
mengembangkan dan mengemas Musik Bambu Hitada menjadi paket-paket wisata.
Dengan cara ini, Musik Bambu Hitada akan mampu menjadi penopang kebutuhan
ekonomi para pelestarinya. Agar mampu menjadi paket-paket wisata yang menarik,
maka pemerintah harus memfasilitasi masyarakat untuk mengasah dan meningkatkan
kemampuan memainkan Musik Bambu Hitada, serta kemampuan menejerial pengelolaan
kelompok musik.
2)
Peralatan
Untuk
memainkan Musik Bambu Hitada, peralatan-peralatan yang diperlukan antara lain :
·
Ruas Bambu. Sebagaimana namanya, maka
peralatan utama Musik Bambu Hitada adalah batangan bambu. Batangan bambu yang
dijadikan peralatan Musik Bambu Hitada biasanya hanya terdiri dari 2 ruas dan
panjangnya tidak lebih dari 1,75 m. Biasanya batang bambu ini sudah sudah
dilobangi sesuai nada tone. Agar menghasilkan nada tone yang berbeda-beda, maka
ukuran bambu baik panjang maupun besarnya berbeda-beda. Agar tampilan bambu lebih
menarik dan indah, permukaan bambu dicat warna-warni.
·
|
Cikir.
Alat musik ini terbuat dari batok buah kelapa yang masih utuh. Di dalam batok
kelapa tersebut kemudian diisi dengan beberapa butir kerikil bulat atau biji
kacang hijau kering. Alat musik ini biasanya juga dicat warna-warni.
·
Beberapa buah Juk. Alat ini berbentuk gitar
kecil yang dibuat sendiri dan dicat warna-warni.
·
Satu atau dua buah biola tradisional. Seperti
halnya Bambu Hitada, Cikir, dan Juk, biola tradisional ini juga dicat
warna-warni.
|
·
Karung goni. Alat ini dibutuhkan jika Musik
Bambu Hitada dimainkan di atas ubin. Dengan kata lain, karung goni dipakai agar
ubin dan batang bambu tidak mudah rusak ketika dibenturkan.
3)
Pemain
|
4)
Cara Memainkan
Secara
garis besar, ada dua tahapan untuk memainkan Musik Bambu Hitada, yaitu tahap
persiapan, dan tahap memainkan.
a.
Tahap
Persiapan
Pada tahap
ini, hal-hal yang harus dilakukan antara lain mengecek peralatan. Peralatan
seperti Bambu Hitada, Cikir, Juk, biola
tradisional, dan karung goni harus dicek apakah dalam kondisi siap pakai atau
tidak. Kesiapan peralatan sangat menentukan sukses tidaknya permainan Musik
Bambu Hitada. Mengecek personel. Cek personel sangat diperlukan untuk
mengetahui kesiapan masing-masing anggota kelompok untuk memainkan alat musik
sesuai dengan tugasnya masing-masing.
b.
Tahap
memainkan
Setelah
semua peralatan dan para pemain musik telah siap, maka permainan Musik Bambu
Hitada bisa segera dimulai. Dalam permainan musik ini, setiap orang hanya mampu
memegang dua batang bambu yang masing-masing hanya memiliki nada satu tone.
Semua alat
musik dimainkan secara bersamaan sehingga menghasilkan satu irama musik yang
enak didengar. Batang bambu dibunyikan dengan cara dibanting tegak lurus di
tanah. Jika di atas ubin, maka di atas tersebut diberi alas karung goni.
Tujuannya untuk meredam efek dari benturan dua benda keras (bambu dan ubin).
Cikir dibunyikan dengan digoyang-goyang, juk dengan cara dipetik, dan biola
tradisional dengan cara talinya dipukul-pukul.
5)
Nilai-nilai
Musik
Bambu Hitada merupakan bagian dari khazanah kebudayaan Halmahera, Maluku Utara.
Musik ini merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai yang hidup dan berkembang
dalam masyarakat Halmahera. Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah: nilai
sakral, kreativitas, kebersamaan, dan ketaatan kepada sistem.
Pertama,
nilai sakral. Walau kini Musik Bambu Hitada lebih menonjol aspek hiburannya,
tetapi pada awal perkembangannya, musik ini menjadi pelengkap upacara-upacara
sakral, seperti upacara perkawinan. Sebagai pelengkap upacara-upacara, maka
dengan sendirinya Musik Bambu Hitada menjadi benda sakral. Posisi sakral Musik
Bambu Hitada harus disikapi secara cerdas. Menurut penulis, label sakral ibarat
pisau bermata dua. Ia dapat menjadi benteng perisai musik ini sehingga tidak
punah pada satu sisi, dan menjadi penghambat perkembangan musik ini.
Kedua,
nilai kreativitas. Keberadaan Musik Bambu Hitada merupakan salah satu bukti
kreativitas masyarakat Halmahera. Bagi masyarakat Halmahera, bambu tidak
sekedar bahan baku untuk membuat rumah dan benda-benda lainnya, tetapi juga
dapat menjadi media untuk berkreativitas dalam berkesenian. Selain itu, Musik
Bambu Hitada juga menjadi media kreatif untuk membangun relasi sosial dengan
masyarakat pada satu sisi, dan melakukan komunikasi dengan sakral, sebagai mana
disebutkan pada nilai sakral di atas, pada sisi yang lain.
Ketiga,
nilai kebersamaan. Di tengah kondisi masyarakat yang semakin individualis, Musik Bambu Hitada mengajarkan kepada kita
untuk senantiasa membangun kebersamaan dengan pihak lain. Tanpa kebersamaan,
tidak mungkin Musik Bambu Hitada menghasilkan irama musik yang menarik. Dalam
kebersamaan, kita dituntut untuk tidak saja menghormati orang lain, tetapi juga
rela dengan peran-peran yang dilakukan masing-masing personel.
Keempat,
ketaatan kepada sistem aturan. Setiap orang harus taat dan mematuhi sistem
aturan yang berlaku. Dengan cara ini, niscaya akan tercipta tata kehidupan yang
tertib. Musik Bambu Hitada mengajarkan kepada kita agar senantiasa patuh dan
taat terhadap ketentuan yang telah ditetapkan, baik menyangkut mikanisme memainkan
alat, atau sistem organisasi permainan. Apa jadinya jika masing-masing personel
Musik Bambu Hitada membuat aturan sendiri? Tentu sebuah irama musik yang
sumbang dan tidak akan enak untuk didengar.....copas(sayta.blogspot.com)Rabu, 24 Oktober 2012
salah satu handycraft karya anak bangsa yang berasal dari maluku,kerajinan asli masyarakat maluku khususnya negeri batu merah ambon,dalam rangka memperkenalkan karya seni asli indonesia kami ingin memperkenalkan bahwa masih banyak karya2 anak-anak indonesia yang masih harus di bina dan dikembangkan oleh pemerintah.....budayakan dan lestarikan seni kerajinan tangan indonesia untuk kemandirian dalam sektor usaha mikro
Langganan:
Postingan (Atom)